Apakah agama ada menjelaskan buruknya judi mesin slot?


Apa sih kata Alkitab tentang Judi ? Ada ayatnya nggak ? Nah..ini masalahnya, di Alkitab nggak ada ayat yang secara eksplisit melarang orang judi atau mendukungnya. Sama seperti nggak ada ayat eksplisit berkata ”Jangan Merokok !” cari di Alkitab, nggak ada… kalau cari di pom bensin malah ada. Tapi ditinjau dari sisi manapun, merokok itu tidak baik. Setuju bu dokter (pasti la yauw..). Nah demikian juga ”Jangan Berjudi”, mau cari ayat yang terang-terangan menuliskan itu, ya nggak ada. Namun justru di sini kita perlu tahu bahwa ketika Firman Tuhan tidak berbicara secara langsung tentang sesuatu, maka kita harus mencari prinsip alkitabiah yang dapat diterapkan untuk menentukan apakah hal itu benar atau salah. Untuk itu kita harus memahami :Apa sih yang dimaksud dengan Judi ? Menurut Wikipedia, perjudian mesin slot adalah sebuah mesin permainan, dimana pemain bertaruh untuk memilih satu pilihan diantara beberapa pilihan dimana hanya satu pilihan saja yang benar dan menjadi pemenang. Pemain yang kalah taruhan akan memberikan taruhannya kepada si pemenang. Jadi, Judi adalah sebuah pertaruhan. Sebuah tindakan spekulatif yang akan menghasilkan ”kemenangan” atau ”kekalahan”, dan untuk masuk dalam tindakan spekulatif itu, kadang orang harus mempertaruhkan sesuatu. Undianpun dapat masuk dalam kategori ini. Mengapa Alkitab tidak mencantumkan ayat yang secara khusus mengijinkan atau melarang perjudian ? Yach.. Meskipun mungkin kita tidak dapat mengetahui semua alasan, salah satunya adalah sebagian besar dari segala sesuatu yang kita perbuat dalam hidup melibatkan “pertaruhan,” resiko yang diperhitungkan. Marilah melihat kepada beberapa contoh umum tentang pertaruhan dalam hidup.Ketika seorang petani menanam tanaman secara dini untuk memperoleh keuntungan dari penjualan hasil panen yang dini, dia beresiko kehilangan investasinya dalam bencana hujan lebat di musim semi. Ketika seseorang dalam bisnis “mempertaruhkan” uang dalam mengadakan kampanye, dia beresiko kehilangan investasinya. Ketika seorang Jenderal mengambil kesempatan di mana sebuah manuver dapat menghentikan langkah musuh, dia mempertaruhkan hidup tentara-tentara dalam misi itu. Ketika seseorang memperhatikan beberapa makanan yang sudah lama berada di dalam lemari es dan melewati tanggal kedaluwarsa, tidak mau membuangnya, dan berpikir, ”Mungkin tidak apa-apa,” dia berspekulasi bahwa makanan itu tidak akan membuat dia sakit (atau lebih parah lagi). Mengambil resiko adalah bagian kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Padahal di dalam Alkitab jelas tertulis di Kolose 3:5 “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.” Jelas bahwa Allah membenci manusia yang memiliki hawa nafsu dan jauh dari ciri orang bijak menurut Alkitab.(Perbuatan Daging)Bermain judi tak beda dengan menuruti perbuatan daging. Karena judi menggambarkan hubungan iman kristen dengan ekonomi, dimana keserakahan, cinta uang dan ingin cepat kaya bukan karakter yang Tuhan inginkan. Oleh sebab itu jelas dikatakan di Alkitab seperti di 1 Timotius 6:10 “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”(Sia-Sia) Judi dikatakan juga sebagai perbuatan sia-sia yang tertulis dalam firman Allah. Ingat kata Pengkhotbah 1:2 “Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Oleh sebab itu melakukan perbuatan judi juga hal yang sia-sia dan sebaiknya dihindari. Akan lebih baik jika diganti dengan perbuatan positif seperti lebih mendekatkan diri pada Allah dan mempertajam tujuan karunia Roh Kudus. Sehingga dengan demikian hidup yang dijalani akan lebih mendatangkan berkat daripada sekedar menghabiskan waktu untuk melakukan judi. Dengan berjudi setiap hari tentu akan membuang waktu sia-sia dan tidak menghasilkan kebaikan apapun. Lain halnya saat mengisi waktu luang dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat.(Dosa)Berjudi sama halnya dengan melakukan perbuatan asal mula dosa menurut Alkitab, karena itu Allah membenci hal tersebut. Seperti yang tertulis dalam Roma 6:23 “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Jika berbuat dosa tentunya tidak mendatangkan damai sejahtera. Lain halnya jika berusaha menjauhi dosa.(Tidak Menjadi Berkat)Amsal 13:11 “Harta yang cepat diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit, menjadi kaya.” Berjudi memperoleh kekayaan secara instan, sehingga tidak akan dapat bertahan. Namun berkat Tuhan yang diperoleh dengan jalan yang lebih baik tentu akan bertahan lebih lama dan membawa prinsip kasih tentang Alkitab dalam memperoleh berkat.Itulah beberapa penjelasan tentang hukum judi menurut Kristen. Sudah jelas bahwa Allah tidak menyukai perbuatan tersebut. Oleh sebab itu sebaiknya hindari berbuat judi di kehidupan. Sebaiknya gunakan waktu luang untuk hal-hal yang lebih berguna, sehingga lebih menyenangkan di mata Allah. Dengan perbuatan yang lebih baik dan dengan manfaat berdoa bagi orang Kristen yang tekun, maka umat Kristen dapat jauh dari perbuatan berjudi.Pada dasarnya, sebagian umat beriman memahami bahwa hari Minggu sama dengan hari Sabat. Akan tetapi, hari Sabat lebih dilihat sebagai hari istirahat atau berhenti dari pekerjaan sedangkan hari Minggu lebih pada mengenangkan hari kebangkitan Kristus dari antara orang mati sebagai ciptaan baru. Demikian diungkapkan Santo Yustinus yang dikutip dalam Katekismus Gereja Katolik: “Pada hari Minggu kami semua berkumpul, karena itulah hari pertama, padanya Allah telah menarik zat perdana dari kegelapan dan telah menciptakan dunia, dan karena Yesus Kristus, Penebus kita telah bangkit dari antara orang mati pada hari ini”.Sikap Santo Yustinus menunjukkan makna iman melalui persekutuan hidup umat beriman untuk menjalankannya pada tiap-tiap hari Minggu.Dalam buku Katekismus Gereja Katolik ditegaskan perbedaan makna hari Minggu dengan hari Sabat;Hari Minggu jelas berbeda dari hari Sabat, sebagai gantinya ia – dalam memenuhi perintah hari Sabat – dirayakan oleh orang Kristen setiap Minggu pada hari sesudah hari Sabat. Dalam Paska Kristus, hari Minggu memenuhi arti rohani dari hari Sabat Yahudi dan memberitakan istirahat manusia abadi di dalam Allah. Tatanan hukum mempersiapkan misteri Kristus dan ritus-ritusnya menunjukkan lebih dahulu kehidupan Kristus.Kebiasaan berkumpul umat beriman ini sudah berlaku sejak zaman para rasul dan dari tradisi yang baik inilah mewarnai seluruh kehidupan umat beriman hingga saat ini. Umat beriman merasa wajib ikut serta dalam beribadat setiap hari Minggu. Landasan yang paling kuat adalah Yesus sendiri yang menjadi kurban agung untuk menyelamatkan manusia dari dosa dengan wafat di kayu salib. Surat kepada orang Ibrani menasihati umat beriman agar: “Jangan kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan Ibadat kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati” (Ibr. 10:25).Hari Minggu merupakan hari yang harus dijadikan suci dengan kegiatan cinta kasih melalui berbuat amal kepada sesama yang penuh kepedulian dan keprihatinan seraya meluangkan waktu untuk keluarga dan para kerabat sampai kepada orang-orang sakit, kaum lemah dan para lanjut usia. Adanya hari Tuhan memungkinkan semua orang memiliki waktu istirahat dan waktu senggang yang cukup untuk merawat kehidupan keluarganya, kultural, sosial, dan keagamaan. Dengan demikian, hari Minggu juga dipandang sebagai waktu yang cocok untuk refleksi, hening dan memacu pertumbuhan serta perkembangan iman dari kedalaman kehidupan batiniah umat beriman yang akan diwujudkan dalam kehidupan konkret.Urgensi yang dapat dipahami dalam memaknai hari Minggu, terungkap bahwa: “Pada hari Minggu hendaknya umat beriman tidak melakukan pekerjaan atau kegiatan yang merintangi Ibadat yang harus dipersembahkan kepada Tuhan atau merintangi kegembiraan hari Tuhan.” Dengan kata lain, kebutuhan-kebutuhan dan pelayanan keluarga yang teramat penting bagi masyarakat merupakan alasan untuk membebaskan diri dari kewajiban istirahat pada hari Minggu sehingga hal-hal ini tidak boleh menciptakan kebiasaan yang merugikan agama, kehidupan keluarga atau kesehatan.Perjanjian Lama merupakan dasar pemahaman umat beriman tentang hari Tuhan. Hari Tuhan lebih dilihat sebagai hari yang selalu dinanti-nantikan oleh umat Tuhan pada saat itu: “Merataplah, sebab hari Tuhan sudah dekat, datangnya sebagai pemusnahan dari yang Mahakuasa” (Yes. 13:6; bdk. Yl. 1:15).